Tortor ini berawal dari suatu mimpi seorang raja Batak keturunan Guru Tatea Bulan, di kawasan Desa Sianjur Mulamula, dalam mimpinya Puncak Pusuk Buhit akan runtuh. Kemudian mereka menggelar ritual untuk membuka tabir mimpi dengan memanggil dukun perempuan dan 6 perempuan perawan kemudian menari sambil menjingjing sebuah mangkuk atau cawan dikepala masing-masing.
Dalam mimpinya, raja diberitahukan bahwa kawasan pegunungan pusuk buhit tempat keturunan pertama si Raja Batak akan runtuh. Untuk memahami dan mendalami arti mimpinya Raja memerintahkan Panglima (Ulu Balang) agar memanggil seorang ahli nujum (Guru Pangatiha) untuk menafsirkan mimpinya.
Oleh karena Guru Pangatiha tidak yakin akan arti mimpi raja, Guru Pangatiha meminta supaya raja menggelar ritual membuka Debata ni Parmanukon atau membuka tabir mimpi. Guru Pangatiha, meminta raja agar acara membuka tabir mimpi ini dilaksanakan sebelum bulan purnama tiba (Bulan Samisara).
Untuk menghalau hal-hal buruk yang akan terjadi ke daerah kekuasaannya, Guru Pangatiha menghimbau agar raja memanggil seorang sibaso atau dukun perempuan bergelar Sibaso Bolon Panurirang Pangarittari. Sibaso Bolon Panurirang Pangarittari bersama enam gadis kemudian menari sambil menjingjing sebuah mangkuk atau cawan dikepala masing-masing dengan diiringi alunan musik gondang Sabangunan.
Ketujuh gadis menari-nari sambil menyiramkan air dalam cawan mengelilingi desa. Cawan tersebut berisikan air dan perasan Jeruk Purut diyakini masyarakat Batak sebagai media pembersihan, terutama pembersihan diri maupun lokasi dimana tarian Tor Tor Sipitu Cawan ini sedang digelar.
Tortor Si Pitu Sawan bukan hanya sekadar tarian, namun sarat akan makna dan filosofi yang dalam. Tarian ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga dan merawat lingkungan serta kebersihan diri. Melalui tarian ini, masyarakat Batak juga mengenang sejarah leluhur mereka
1 Komentar
Teruskan lestari kan budaya Batak.saya dari perantauan salam hormat kepada pelaku yang terlibat dalam proses pembelajaran tortor.mantab Horas.
BalasHapus